Jumat, 12 September 2014

B A N J I R

Enam suku kata terdengar ringan, tetapi lokasi kali ini bukan di Jakarta, sekarang saya sudah berpindah posisi di Semarang.
Lima tahun saya berada di kota ini, kesan yang saya dapat adalah menyenangkan :), bergelut dengan dunia perkuliahan, survai kesana kemari, KKN, Tugas Akhir, Thesis, ah semua sudah terlampaui dengan indah.
Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Kota ini, semua orang bilang bahwa “Semarang banjir” bahkan ada lagu dengan lirik “Semarang kaline banjir”, toh kenyataannya tidak, lima tahun saya berada di kota ini, tak pernah saya ketemu banjir, 2008 hingga 2013, sungguh :D
Saya memang mendengar cerita itu, coba kalian ke Terboyo, ke Stasiun Tawang, ke Kota Lama, ini foto-fotonya, banjir lho disana, dan ketika saya ke tempat itu, kering, tak ada banjir.
Hingga 2014, Januari, ya, saat ini, saya baru tahu kalau cerita tentang banjir itu benar, sebulan tinggal di Genuk, daerah Semarang Utara, dua kali sudah saya rasakan banjir itu memang benar adanya, hujan sehari semalam, air naik 30 cm. Hujan 3 hari 2 malam, air sudah setinggi 60-70 cm. Itu di depan kost yang notabene jalannya sudah sedikit ditinggikan, daerah lain, ada lho yang lebih dalam, ada pula yang lebih dangkal. bervariasi.
Yang ingin saya ceritakan disini adalah kegigihan masyarakat yang ada mempertahankan wilayah mereka. Berdasarkan ilmu yang saya dapat dibangku kuliah, disebutkan bahwa daerah Semarang Utara, termasuk wilayah Genuk, Kaligawe, Kota Lama, sudah termasuk dalam zona merah yang setiap tahunnya mengalami penuruhan muka tanah sedalam 5 cm.
Tanah yang ada di kawasan ini juga sudah dinyatakan jenuh air, dimana ketika hujan turun air tanah sudah tidak dapat meresap lagi kedalam tanah, saya umpamakan tanah seperti spons yang sudah meresap banyak air, maka ketika dia mendapat tambahan air, maka tidak ada ruang lagi baginya untuk menyerap air tersebut.
Lalu kenapa? Apa yang seharusnya dilakukan?
Pertanyaan yang cukup menggelitik dibenak saya adalah disini terdapat sebuah Universitas swasta yang besar, mengapa Universitas ini masi bertahan? Bahkan melebarkan sayap, membangun Rumah Sakit besar dan ternama, membangun gedung Fakultas baru 8 lantai, padahal notabene mereka tau, setiap tahunnya mereka akan didatangi “tamu tahunan”.
Jika kalian melewati jalur ini, coba perhatikan, penunjuk jalan, jembatan, palang pintu kereta api, sudah memiliki tinggi yang tidak wajar, kini semua prasarana itu hanya terlihat separuh, karena setiap tahunnya, jalan yang ada ditinggikan agar air tidak masuk ke wilayah ini.
Kemudian saya berpikir, berapa banyak dana yang harus dikeluarkan untuk peninggian jalan ini, berapa banyak dana yang harus masyarakat keluarkan untuk meninggikan rumah mereka, saya sudah pernah melakukan survai dan wawancara dengan masyarakat yang ada di daerah Tambak Lorok, dekat dengan wilayah ini juga, salah seorang warga tersebut berkata “Biaya perawatan rumah disini itu mahal mba, setiap beberapa tahun sekali, saya harus meninggikan rumah saya agar tidak banjir”.
Bisa kalian bayangkan, jika setiap tahun muka tanah turun 5 cm, 10 tahun menjadi 50 cm, Padahal untuk hidup membangun keluarga, mempunyai anak, cucu, bahkan mungkin ada buyut, kita ambil rata-rata 50 tahun. Setidaknya untuk warga didaerah ini, jika mereka ingin rumah mereka terbebas dari banjir 50 tahun kedepan, rumah mereka harus setinggi 250 cm di atas permukaan tanah sekarang, itu sama dengan lantai 2 sebuah rumah, dan mungkin kita harus belajar seperti masyarakat tepian sungai di Kalimantan yang membuat rumah panggung, dengan bawah rumah kosong dan transportasi menggunakan perahu motor, bisa jadi ini menjadi daya tarik tersendiri, ketika kita melintasi Kota Lama, kita seperti ke Venicia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar