Jumat, 12 September 2014

J A K A R T A

Desember 2013

Menurutku, kalian pasti sudah tidak asing mendengar kata Jakarta, Ibukota negara Indonesia, yang katanya kejam seperti ibu tiri.
Taukah kawan? Awalnya aku tidak mengindahkan kata-kata ini, aku sudah terlalu senang diterima disalah satu perusahaan swasta di Ibukota, walaupun bukan BUMN, bukan PNS, setidaknya ini dapat menjadi batu loncatanku, tapi ternyata tidak.
Beruntung aku punya om yang baik hati, adik kandung ibukku, membantuku untuk dapat bekerja di perusahaan kontraktor di Jakarta. Dan beruntungnya lokasi kantor dekat dengan kantor BUMN teman terbaikku, jadi kita bisa kos deketan (berharap satu kosan, tapi ngga bisa, karna kos temanku sudah penuh)
Dari sana, petualangan seminggu ku dimulai ..
Hari pertama, menempati kos baru, tempat kerja baru .. Masa perkenalan dengan Jakarta tidak mulus teman.
Kos baru, ketika masuk kos baru, kita sudah dimulai dengan pembayaran, sungguh ini berbeda dengan didesa dan dikota lain di Indonesia, disini semua seperti berkata, UANG, UANG, UANG, semua berorientasi pada MATERI, dimana, kalau bawa ini itu harus tambah bayar ini itu. disini sudah tidak ada lagi kekeluargaan, tenggang rasa, sebagaimana prinsip manusia hidup, bertetangga, kebaikan bergaul dengan sesama, sikap gotong royong, tolong menolong, disini semua sudah tegadai dengan MATERI. sedih aku merasakannya.
Kemudian masuk ke tempat kerja baru, hujan sepulang kerja, pukul 7 malam di Jakarta masih seperti pukul 2 siang didesa, atau pukul 5 sore di Kota lain di Indonesia
Penuh, Sesak, Macet
Walalupun aku hanya berjalan kaki, aku merasakan kepenatan itu, menyabrang, aku hampir saja tertabrak, lalu aku berjalan dengan tertib di trotoar. Kaget aku melihat, motor-motor itu masuk ke trotoar dengan kecepatan tinggi, tidak mau mengalah pada pejalan kaki, padahal trotoar itu hak pejalan kaki, sekali lagi aku tegaskan TROTOAR ITU HAK PEJALAN KAKI.
Tapi kita bisa melawan, mau kita kecam sekeras atau selembut apapun, itu akan menjadi sesuatu negatif yang dapat menjadi bom, jadi pilihan itu jatuh pada diam. Tapi diam itupun tidak menjadi benar disana
Kata siapa ibukota orangnya individu? kata siapa? ya mungkin individu dalam masalah materi, dalam masalah gotong royong, tapi toh kau jalan kaki pun, mengenakan baju tertutup, berjalan sopan, kau tetap akan dipanggil2 digoda, itu kerisihanku kedua MORAL, KESOPANAN, taukah kalian mengenai arti kata itu?
. JAKARTA HARI KEDUA .
Aku memberanikan diri, berangkat ke kantor lewat jalan alternatif, jalan kecil melalui jalan pemukiman, tidak suka aku melihat hiruk pikuknya kendaraan .. Tapi disisi itu, apa yang kudapat, sebuah keprihatinan .. Jalan itu kurang lebih dua meter, akan tetapi sudah beralih fungsi, satu meternya sudah dimanfaatkan pedagang kaki lima untuk berjualan .. disampingnya ada selokan, menggenang, hitam, berbau tidak sedap .. dari sini aku tangkap, hilanglah sudah KEBERSIHAN .. mungkin dari luar tampak gedung berjejer dikota ini, akan tetapi didalamnya kau lihat, rumah-rumah kecil petak itu berderet, dengan jalan-jalan kecil, dengan selokan yang hitam dan bau .. Lalu kau pasti akan bilang, kau salah cari kos mungkin, kau mungkin kos di daerah kumuh, menurutku tidak, aku berada di area ring satu, disamping kantor walikota, didekat kantor pemerintahan, bahkan sangat dekat dengan landmark kota ini, monas.
Makan siang, salah seorang teman kantor mengajakku untuk pergi makan siang diluar, dikompleks pujasera didekat salah satu kementrian, disana banyak aku jumpai ibu-ibu, bapak-bapak berpakaian PNS yang juga membeli makan siang.
Pujasera itu ramai, ditemani rintik hujan, sekeliling air menggenang, diatapi tenda, orang-orang disana makan dengan lahapnya, aku .. entah kenapa merasa risih, ada beberapa orang yang asyik menyantap bakso dengan kuah yang bertambah, bertambah air hujan yang ku maksud, karena, tenda itu tak dapat menebas seluruhnya air hujan, terkadang cipratannya masuk. botol-botol saus dengan pewarna merah pekat, masuk ke mangkok mereka .. seketika aku ingat acara televisi yang menayangkan investigasi makanan-makanan di Jakarta. Dan seketika itu nafsu makanku hilang .. MAKANAN DI KOTA INI MULAI TIDAK SEHAT.
Disela-sela makan siang itu, salah satu teman bertanya, “kamu lulusan mana?”, owh kamu lulusan PTN?, kenapa kerja di swasta?, lalu pertanyaan lain muncul, “kamu asli mana?, loh kamu dari daerah, kenapa kamu pilih Jakarta?”. Peranyaan itu membuatku bertanya lagi pada diriku .. Kenapa berani aku pilih Jakarta untuk sebuah pekerjaan swasta?
Mungkin jika pekerjaan ini merupakan pegawai negeri, akan aku perjuangkan dimanapun diseluruh Jawa (karna itu merupakan cita-cita sejak jaman purba) jikalau ini swasta, lalu mengapa? Hatiku mulai bimbang, kemudian diam
Perjuangan hari ini tak sampai disitu, pulang kerja, aku masih harus melalui jalan itu, terpaksa, dengan ditemani gerimis kecil, sehabis hujan yang cukup deras tadi, tapi aku tidak mencium bau sedap tanah selepas hujan, hanya bau got yang membuatku mual, tidak ada udara sejuk dingin yang aku rasa, sehabis hujanpun, tetap masih panas.
Selepas sampai kos, aku merasa sesak, entah kenapa, aku rasa di kota ini oksigen semakin menipis, coba kau bayangkan saja, berapa banyak orang yang tinggal di kota itu, semuanya bernafas menghirup oksigen, lalu kau bandingkan, berapa banyak pohon dan tumbuhan disana yang dapat menyerap karbondioksida mu, lalu melalui proses fotosintesis pada siang hari, mengubahnya menjadi oksigen. Belum lagi pencemaran udara dari kendaraan bermotor, outdoor AC gedung-gedung perkantoran, pernahkan kau berpikir tentang hal itu? OKSIGEN KOTA INI HAMPIR  HABIS.
. JAKARTA HARI KETIGA .
Hari ketiga ..
Hari ini aku terpaksa izin tidak berangkat kekantor, karna harus mengikuti test tahap 3 CPNS salah satu kementrian. Aku tidak tau menahu kota ini, aku hanya mengikuti teman kosku kemana dia pergi, kebetulan dia mengikuti test yang sama di Kementrian yang sama denganku .. test jam 8, aku harus berangkat dari kost jam 6 kurang, padahal jarak yang akan kami tempuh hanya 5 km, jika kita bandingkan dengan di daerah ataupun di kota lain, jarak 5 km itu bisa kita tempuh hanya dengan waktu kurang dari 10 menit dengan kecepatan rata2 40 km/jam, sedangkan disini, kita harus mempersiapkan 2 jam sebelumnya hanya untuk jarak 5 km. WAKTU TERBUANG DI JALAN.
Pulang dari test, aku mengikuti temanku belanja disalah satu tempat perbelanjaan, dari semua yang aku ceritakan negatif di atas, mungkin hanya ini positifnya, sandang/pakaian disini cukup murah dengan model yang lebih baru dan beragam dibanding daerah lain atau di desa. Disini kami makan disalah satu restaurant cepat saji, lagi-lagi entah kenapa makanan ini tidak bisa dinikmati lidahku dengan gampang, karna aku masih berpikir, makanan cepat saji? mungkinkah ini akan aku konsumsi sering untuk menghindari makanan yang aku anggap kotor dan tidak sehat, bukankah makanan cepat sajipun sama tidak bagusnya? Dengan harga yang tidak bagus juga untuk kantong pegawai baru sepertiku.
. JAKARTA HARI KEEMPAT .
Hari ini aku terpaksa masuk setengah hari, karna aku harus mengikuti test tahap 3 di Kementrian lain .. aku tak tau daerah yang aku tuju sebelah mana, seberapa jauh dari tempat ku tinggal, akhirnya keputusan jatuh pada taksi. Pagi-pagi sebelum pukul 6, kami sudah berkemas, menggunakan taksi, kurang lebih perjalanan kami 20 menit dengan jarak 12 km (pada gps yang aku punya). Perjalanan berangkat itu lancar.
Aku mengerjakan test dan selesai lebih awal, pukul stengah 11, aku berharap aku dapat kembali ke kantor dengan cepat, tapi malangnya, aku tak tau bagaimana cara memesan taksi disini, puluhan taksi aku stop di depan lokasi test yang aku ikuti, aku coba hubungi nomer taksi, hingga aku ketuk pintu taksi yang berhenti, hasilnya NIHIL.
Hingga setengah 12, aku mulai putus asa, untunglah ada seorang teman yang mau menolongku, dia sudah hampir setaun tinggal di kota ini. Aku meminta bantuannya untuk memesankanku taksi. setelah dua kali meminta armada, sejam kemudian baru taksi yang aku pesan datang, itupun dengan berlari dan terburu-buru. 40 menit perjalanan menuju kantor, 2 kali lipat waktu dari perjalanan berangkat. Ah, kota ini mulai membuatku stress.
Sesampainya di kantor, teman kantor mengajakku untuk makan siang, tapi ajakan itu aku tolak, aku lebih memilih membuat mie instant cup dikantor, toh aku pikir, sama-sama tidak sehatnya, jadi, yasudahlah.
. JAKARTA HARI KELIMA .
Setiap malam setelah pulang kerja, pikiran-pikiran itu menghantui otakku, berdesing, membuatku susah tidur, jakarta yang panas terasa semakin panas, jakarta yang sudah sesak, aku rasa semakin sesak .. 2 orang teman malam ini menginap, diam-diam (karna kalian tau betapa matre nya kota ini, jika ketauan ada yang menginap, bakal kena carger), sungguh realitas yang amat berbeda ketika kalian kost di kota lain, dimana kalian masih bisa merasa INDONESIA, dimana masi ada tolerasi, gotong royong dan saling tolong menolong.
Pembicaraan kami bertiga malam ini mungkin lebih cenderung ke arah keluhan .. aku lelah sekali “….” salah seorang teman mengeluh, kamu bisa bertahan? dengan kondisi seperti ini? Kalau aku ngga mau kalau cuma kerja swasta disini, aku maunya kalau kerja disini ya jadi PNS.
Celetuk temanku itu semakin meyakinkanku, apa yang aku cari selama ini? Apa yang aku cari di kota ini? pengalaman? kenapa tidak aku cari di kota lain saja? di kota yang lebih bersahabat?
. JAKARTA HARI KEENAM .
Say good bye to Jakarta ...
Dengan langkah gontai, memaksa masuk, menyusuri jalanan yang padat, dengan pikiran yang penuh, izin dari orang tua sudah dikantongi, menetapkan hati, memang seharusnya saya resign, saya sudah tidak ingin membebani kota yang sudah penuh beban ini .. jika memang untuk bekerja disebuah perusahaan swasta, saya lebih memilih untuk mencari di kota lain saja. Tanpa berpikir panjang lagi, surat resign itu saya ajukan, saya pikir, lebih cepat lebih baik, sebelum ada tanggung jawab yang saya emban, sebelum banyak pekerjaan, sebelum semua terlanjur menjadi semakin rumit.
Saya tidak tahu berapa banyak orang yang merasakan apa yang saya rasakan dan saya tidak tahu berapa banyak orang juga yang berkebalikan dengan yang saya rasakan. Karena mata uang pasti punya dua sisi bukan? seperti semua yang ada di alam semesta ini, ada sisi yang berbeda agar semua tetap seimbang. boleh jadi kalian punya kisah yang lain.
Dan semoga ini bisa menjadi pelajaran, janganlah mudah mengambil suatu tindakan dan sikap, tunggulah sejenak sampai kamu benar-benar yakin kamu akan dapat menerima semua konsekuensinya.

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar